Tepat pukul 00.00 WIB bersautanlah suara gemuruh kembang api. Tidak hanya itu, dentuman bunyi mercon pun tak mau kalah ramai. Sirine mondar-mandir mengusik ketenangan malam orang-orang yang sedang terlelap. Di sudut lain, tampak beberapa anak-anak dan remaja bersautan membunyikan terompet. Saking ramainya, malam itu tampak seperti pasar malam yang benar-benar bising. Tentu juga sampah tergeletak dimana-mana. Padahal, hari-hari sebelumnya tidak pernah ada keributan seperti itu. Benak ini bertanya, ada apakah gerangan?
HURA-HURA DI PENGHUJUNG TAHUN
Kondisi di atas tentunya cukup untuk menggambarkan malam pergantian tahun Masehi. Bagi sebagian masyarakat, Tahun Baru Masehi seolah menjadi "adat" untuk melakukan pesta pora. Ada juga yang menjadikannya sebagai ajang untuk memadu kasih di tempat sepi (baca:pacaran), minum-minuman keras, dan joget abis sampai pagi. Bahkan untuk melakukan perayaan seperti itu, banyak Event Organizer (EO) yang menyediakan milyaran rupiah agar para penikmat hiburan terpuaskan. Padahal, banyak fakir miskin dan anak-anak terlantar yang tidak mampu untuk menegakkan badan karena lapar.
Dari dewasa hingga anak-anak, banyak diantara mereka yang sering kali tertahan dari tidur saat malam pergantian tahun tiba. Mereka kuatkan diri agar tidak melewatkan momen berharga yang konon akan membawa semangat baru itu. Padahal, kalo untuk urusan shalat malam mereka tidak pernah sehebat itu. Paling banter bangun malam cuma untuk nonton Liga Champions Eropa atau Piala Euro. Dan yang disayangkan lagi, banyak yang bela-belain untuk membuka mata hanya untuk melototin keramaian dan maksiat di jalanan. Naudzubillahi min dzalik.
Memang malam-malam tahun baru biasanya lebih mirip dengan huru-hara daripada sifat asli malam yang tenang. Tidak sedikit yang menjadi korban karena ulah mereka sendiri yang "brutal". Coba tengok beberapa waktu lalu. Bukankah sering terjadi kecelakaan lalu-lintas di malam tahun baru karena banyak yang tidak disiplin dalam berkendara? Dan yang lebih mengenaskan, ada beberapa orang yang mati saat merayakan tahun baru. Nah, kalo begini termasuk su'ul khatimah atau khusnal khatimah? Wallahu a'lam.
HARI RAYA-KAH?
Melihat fenomena malam pergantian tahun baru yang heboh seperti itu, mungkin angan kita teringat pada malam-malam Idul Fitri. Tanpa membenarkan tindakan-tindakan pemborosan dan kelewatatn di malam-malam Idul Fitri, perayaan Tahun Baru Masehi tidak ubahnya perayaan menjelang Idul Fitri. Banyak diantara masyarakat yang melakukan pawai keliling sambil menyulut mercon dan kembang api. Bedanya, kalo di malam Idul Fitri masih diiringi takbir dan tahmid, sedangkan di malam tahun barau hanya ada suara-suara histeris. Seolah mereka benar-benar melepas semua masalah padahal mungkin hutang dan berbagai kegagalan telah menunggu di depan mata.
Yang jelas, tahun baru Masehi bukanlah hari raya umat Islam seperti halnya Idul Fitri dan Idul Adha. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk ikut-ikutan merayakan perayaan yang nggak jelas seperti itu. Kenapa dikatakan nggak jelas? Ya, karena dia bukan berasal dari Islam. Ingat, Islam cuma punya 2 hari raya lho dalam setahun. Jadi perayaan tahun baru hijriyah juga sebenarnya tidak dituntunkan dalam islam. Kalo benar dituntunkan dalam islam, tentu Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah orang yang bersemangat melakukan perayaan itu. Tapi nyatanya, tidak ada satu pun riwayat yang menjelaskan tentang perbuatan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya terlait perayaan tahun baru hijriyah.
Bagaimanapun bentuk perayaan tahun baru masehi, itu hanyalah taktik dari orang-orang kafir untuk memuaskan hawa nafsunya plus melemahkan semangat juang kaum muslimin. Ini yang perlu dicatat dalam-dalam hingga relung hati. Dan kalo mau merunut lagi, memang perayaan tahun baru masehi itu berasal dari penyembah matahari. Nah kalo begini, bener-bener nggak boleh ikut kan karena bisa termasuk dalam perbuatan tasyabbuh (menyerupai) orang kafir.
TABDZIR PLUS
Merayakan tahun baru, tentu ada kocek yang dikeluarkan. Konon ada yang rela mengucurkan dana hingga milyaran hanya sekedar untuk peringatan pergantian tahun !?! Padahal kalo ditimbang nggak ada manfaat yang bisa dipetik dari acara tersebut, baik yang menyangkut kebutuhan duniawi dan ukhrawi. Nggak ada istilahnya dalam syariat kecuali hanya kesia-siaan dan kemubadziran. Sehingga menghamburkan banyak harta dalam acara seperti ini adalah termasuk menyia-nyiakan harta, atau disebut juga tabdzir, Allah Subhana 'Azza Wajalla sudah jelas melarang perbuatan itu dalam firman-Nya,
"Sesungguhnya para mubadzir(pemboros) itu adalah saudara-saudara dari setan. Dan setan itu adalah makhluk yang ingkar terhadap Rab-Nya."(Al-Isra:27)
Pada malam tahun baru banyak kita temui fenomena kebanyakan orang menunda jam tidur hanya untuk menunggu terjadinya pergantian tahun baru masehi. Bersenang-senang, ngobrol, konvoi keliling kota, hura-hura, dan banyak hal yang nggak bermanfaat dilakukan. Padahal nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam membenci ngobrol-ngobrol atau kegiatan nggak berguna lain yang dilakukan usai shalat isya. Kita lihat tauladan kita, jika tidak ada kepentingan, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan langsung tidur, agar dapat bangun di malam hari untuk beribadah. Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'an hu, ia berkata,
"Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam menyebutkan kepada kami tercelanya mengobrol usai shalat 'isya." (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)
Rasulullah juga bersabda,
"Tidak boleh mengobrol(pada malam hari) kecuali dua orang; orang yang akan shalat atau musafir"(Riwayat Ahmad)
Maka orang yang begadang, menghabiskan malamnya untuk menunggu dan menikmati tahun baru telah melanggar sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Dengan begadang, mereka melalaikan shalat malam berdzikir pada Allah, di pagi hari pun kesiangan dan telat melaksanakan shalat shubuh. Betapa banyak kerugian akibat mengikuti perayaan tahun baru ini.
Islam sebagai agama yang penuh rahmah, melarang umatnya untuk bergadang tanpa manfaat dan melakukan kesia-siaan. Bagi kamu yang nggak ikut-ikutan perayaan tahun baru maka itulah sebuah kemenangan, sedangkan yang masih ikut-ikutan nggak ada sebutan kecuali kerugian baginya. Berfikirlah wahai kawan! (adin-uda)
Majalah Elfata Edisi 12 Volume 09-2009.



10.41

Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar
Ingin agar emoticon di atas tampil dalam komentar kamu, cukup dengan menuliskan kode di samping kanan icon yang bersangkutan.
"Budayakan Berkomentar Setelah Membaca, Terima Kasih"